Tampilkan postingan dengan label Studio Musik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Studio Musik. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Februari 2012

Bisnis studio musik

Gambaran Umum.....
 
Bisnis penyewaan studio tidak terlalu menjamur seperti warnet atau jualan pulsa, namun sebenarnya kalau dilihat dari peminatnya cukup banyak, apalagi untuk daerah perkotaan. Biaya sekali penyewaanya lumayan besar untuk mengejar balik modal. Perawatannya cukup sederhana dan alat-alatnya tidak rawan rusak (kecuali senar dan stick), penggunaan listriknya pun tidak terlalu besar. Tidak butuh banyak karyawan, karena satu orang penjaga saja pun sudah cukup. Namun itu semua tergantung pada menejemen studio tersebut.
Jasa penyewaan studio kini mulai berevolusi, maksudnya ada beberapa studio yang tidak hanya menyewakan studio (indoor) namun ada juga yang  menyewakan alat berikut sound system-nya untuk even di luar (outdoor), ada juga yang sekaligus bisa untuk rekaman (recording), kursus musik dan bahkan ada yang menjadi EO (event organizer) untuk acara-acara besar. Artinya usaha ini bisa dikembangkan sesuai kapasitas menejemen studio tersebut. Tertarik?? Lanjut……
            Target Konsumen
            Musik adalah ekspresi jiwa yang universal dan musik tidak lepas dari istilah ngeband. Mayoritas anak muda khususnya pelajar dan mahasiswa mempunyai hobi bermusik. Namun tidak semua dari mereka memiliki fasilitas lengkap untuk menunjang hobi tersebut. Ada beberapa faktor diantaranya:
1. Mahalnya harga alat-alat musik. Jika diperlihatkan daftar harga alat musik kepada mereka yang mempunyai hobi bermusik, mungkin mereka akan berhenti mendadak kerena harganya yang mahal. Namun alasan ini khusus bagi kalangan menengah ke bawah.
2. Ribet (memakan banyak waktu dan tempat). Bagi kalangan menegah ke atas, membuat studio bisa dibilang ribet karena butuh banyak tenaga dalam penggarapannya. Dan rata-rata mereka hanya ingin sesuatu yang instant dan tidak terikat (datang langsung main, selesai langsung pulang).
Dari faktor di atas, bisa diambil kesimpulan bahwa. Ada dua kalangan yang benar-benar membutuhkan jasa penyewaan studio. Pertama, kalangan menengah ke bawah, kedua, kalangan menengah ke atas.  
Secara general ada dua target konsumen penyewaan studio,
1. Dunia sekolah dan kampus.
Sekarang, ngeband sudah menjadi gaya hidup. Bisa diprediksikan 7 dari 10 pelajar (tingkat sekolah atau perguruan tinggi) mempunyai hobi ngeband. Jadi bisa dibayangkan, berapa banyak pelajar yang berminat dalam bidang musik.
            2. Pekerja (orang yang sudah punya pekerjaan)
Musik itu universal begitupun peminatnya. Di antara pekerja yang setiap hari melakukan aktifitasnya, ternyata banyak juga yang tidak mau melepas hobi ngeband-nya. Menurut pengalaman pribadi penulis. Konsumen penyewaan studio 50% dari kalangan pelajar dan 50% lagi dari kalangan pekerja.
Jadi bisa disimpulkan, ada dua kalangan konsumen tetap pertama pelajar, kedua pekerja. Sisanya pengangguran ‘banyak duit’. Hehe..
Tempat 
Tempat menjadi hal yang krusial sebagai penentu apakah studio akan ramai dengan konsumen atau sebaliknya. Seperti apa?? Penasaran ?? lanjut…..
1. Daerah yang memiliki mobilitas yang tinggi. Ada banyak kegiatan yang dilakukan setiap hari.
            2. Wilayah pendidikan seperti sekolah dan kampus.
            3. Strategis. Hal ini untuk mempermudah akses dan masa promosi.
            4. Nyaman dan aman.
Fasilitas Studio
1. Ruangan
            Ruangan standar untuk studio biasanya 8X6 M. Memang dibutuhkan ruangan yang luas, karena akan dipasang peredam suara. Dan jikalau terlalu sempit suara yang dikeluarkan akan berputar dan rawan terjadinya noise dan feedback, akibatnya suara instrument tidak terdengar luas.
2. Alat
Ini tergantung, mau yang biasa, sedang atau luar biasa. Namun standar fasilitas di studio memiliki:
o   Drum set, lengkap dengan symbal dan ride
o   2 guitar.
o   1 Bass.
o   Keyboard
o   4 Amplifier .
o   Mixer dan Power
o   3 buah mic
o   2 buah sound monitor
o  Stabilizer, agar listriknya stabil.
Kesembilan alat di atas tidak bisa dikurangi lagi, kalau lebih boleh. 

3. Peredam
            Kedengarannya sepele dan kurang penting, padahal ini menjadi ukuran studio itu bagus atau buruk. Kegunaan peredam adalah untuk meredam suara agar tidak keluar dari ruang studio. Hal ini menjadi penting agar tidak mengganggu tetangga, dan bisa dimanfaatkan untuk memperindah suasana dalam studio

             4. AC (pendingin)
            Kalau di daerah masih bisa ditolelir studio yang hanya memakai kipas angin masjid. Tapi kalau di perkotaan yang identik dengan panas  tidak ada yang mau mentolelir. Jangankan hanya kipas, AC yang kurang dingin saja bisa menjadi alasan konsumen tidak mau datang lagi.  
     
5. Ruang Tunggu
            Biasanya studio mempunyai peraturan untuk para konsumen agar datang 15 menit sebelum masuk. Nah, selayaknya disediakan ruang tunggu atau kalau tidak ada ruangan yang mencukupi, cukup di sediakan bangku atau sofa untuk kisaran 8 orang.
 6. Toilet
Buang air kecil atau besar tidak pernah bisa kita prediksikan kapan datangnya. Maka dari itu toilet menjadi penting untuk menunjang hajat para konsumen.  
         
 Kalo ada modal lebih, bisa ditambah: 
1.      Mini Market / CafĂ© Menyediakan minuman ringan dan makanan ringan. Atau menjual senar, stick, majalah musik, pic, dll. Lumayan buat menambah pemasukkan dan menopang pembayaran tagihan perbulan 
2.      Majalah atau buku bacaan yang berkaitan dengan musik Kalau ditanya pekejaan apa yang paling bosan, mungkin salah satunya menunggu. Membaca majalah bisa menjadi alternatif konsumen agar tidak bosan menunggu giliran masuk. 
3.      Wifi atau internet gratis. Hari ini semua bisa serba instant dengan adanya jaringan internet. Semua bisa dengan mudah diakses dan dipublikasikan, begitupun informasi. Wifi bisa menjadi daya tarik para konsumen untuk menunggu giliran masuk studio atau bahkan bisa menjadi tempat tongkrongan baru bagi mereka yang suka kumpul, update status, dan banyak lagi.
Gambaran Modal.....
Fasilitas di atas bisa menjadi acuan awal untuk membuat jasa penyewaan studio. Seperti yang sudah dijelaskan diawal, untuk membuat studio dibutuhkan biaya dan modal yang tidak sedikit. Memang sedikit ada keraguan. Setiap pengusaha pasti ingin untung, dan sangat jarang mereka mau mentolelir kerugian. Walau pada kenyataannya naik-turunnya sebuah usaha itu wajar. Intinya, ada pada pengelolaan, menejemen dan totalitas dari pengusaha tersebut. 
Biasanya konsumen mengeluarkan pertanyaan:
“Studionya bagus enggak?”.
“Alat-alatnya keren?. merk-nya apa aja?”. 
Ini adalah gambaran kegelisahan mereka yang mungkin pernah menyewa studio yang tidak sesuai standar mereka. Ada tiga kualitas studio:
1.      Studio Bagus (mewah). Alat yang disewakan ber-merk terkenal di kalangan musisi. Suasana di dalam studio pun mewah, dan yang pasti menarik.  Mainnya enak ditambah lagi suasananya yang mendukung. Biasanya harga penyewaan  1 jam 50-80 ribu.
2.    Studio Biasa. Alat yang disewakan terkenal, cuma terkenal kualitasnya biasa. Biasa, maksudnya “enggak jelek dan enggak bagus”. Tapi tidak melupakan inti dari studio. Cukup untuk memuaskan konsumen. Biasanya harga penyewaan dalam 1 jam 30-45 ribu  
3.      Studio Jelek. Alatnya yang disewakan jauh dari standar. Akan muncul celetukan konsumen “Kaga enak studionya, kita cari yang lain aja”.
Tapi kadang terjadi, studio dengan kualitas biasa memasang harga sama dengan studio berkualitas bagus. Begitupun studio berkualitas jelek memasang harga studio berkualitas sedang.  Biasanya ini terjadi sesuai daerah di mana studio itu berada. Contoh, studio kualitas bagus yang berada di daerah Sawangan harganya 30 ribu/jam sedangkan yang kualitas sedang 25 ribu/jam. Berbeda dengan studio yang berada di daerah Bintaro, studio kualitas biasa harganya bisa 50-60ribu/jam. Secara tidak langsung terjadi pertukaran harga. Artinya, penentuan harga sewa perjam bisa dikondisikan sesuai tempat dan kualitas alat.
Buat budgetnya variatif, sesuai dengan tiga jenis studio yang udah dijelasin di atas. Kalo alat berikut peredamnya siapin aja 30 juta – tak terhingga. Kalo mau dipaksa dengan budget di bawah 30 juta juga bisa cuma barangnya second dan untung-untungan dan lagi nguras tenaga. Untuk biaya aman siapin aja 50 juta dan kalo mau lebih aman lagi di atas 50 juta. Ini berlaku buat pemodal yang punya tempat sendiri. Kalo tempatnya sewa beda lagi. Penasaran??
Berhubung penulis berdomisili di Tangerang jadi pasaran sewa tempat atau ruko antara 20 juta pertahun – tak terhingga. Lagi-lagi harus disesuaikan dengan kebutuhan, kurang ya jangan, lebih ya mubazir. Cuma kalo hanya untuk rental studio yang 20-30 juta juga udah pas. Habis itu tinggal di kalkulasikan modal buat alat dan peredam + sewa tempat. Itung sendiri ya…
 Tantangan dan Solusi Penyewaan Studio
            Apa pun bentuk pekerjaannya pasti ada tantangannya, begitupun dalam bisnis ini. Di setiap masalah pasti dibarengi oleh solusi, tergantung bagaimana kita bisa mengambil pelajaran dari setiap masalah tersebut. Di bawah ini akan dijelaskan apa saja yang menjadi tantangan dan halangan apa saja  yang sering dihadapi dalam bisnis penyewaan studio.
1.      Persaingan sesama pengusaha studio. Sepengetahuan penulis, per 100m di suatu tempat atau daerah terdapat penyewaan studio. Jadi bisa dibayangkan dalam satu kelurahan ada berpuluh-puluh studio. Solusinya adalah membuat studio itu menarik dan berbeda dengan yang lain tapi tidak melupakan inti dari fungsi studio tersebut dengan prinsip “minimalis to maksimalis”. Misalnya, dari percakapan di bawah ini:
“Studio A bagus, soundnya bagus banget, tapi drumnya kurang enak”
“Gw enggak nyaman, masa lo pada enjoy mainnya sedangkan gw kaga”. Keluhan drummer.

Nah, tantangan itu bisa dijawab dengan memberikan porsi yang sama pada setiap alat sampai pada titik nyaman. Maksudnya, walau 1 bagus tapi ada beberapa alat yang kurang nyaman, akan mengurangi minat konsumen untuk balik lagi. Karena bagus diatas maknanya sudah lebih dari nyaman. Yang jelas bersainglah dengan sehat…..
2.      Kerusakan alat. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa alat-alat studio harganya mahal, begitupun ongkos perbaikannya, jika terjadi kerusakan. Contohnya symbal rusak, dan sekali ganti bisa mencapai Rp. 700.000. Ini cukup membuat pusing para pengusaha studio. Triknya untuk hal ini dengan memberikan denda jika ada alat yang rusak. Misalnya senar putus, atau sener drum sobek, maka si player-nya dikenankan denda sesuai harga kerusakannya.
3.      Balik Modalnya Lama. Pada intinya prinsip berbisnis adalah bagaimana usaha itu terus berjalan atau keep moving, karena memang biasanya perhari studio hanya ada 3-5 band yang menyewa, dipotong biaya kerusakan alat dan lain-lain yang tidak terprediksi. Dan yang paling besar biaya sewa tempat pertahun, jadi bisa sampai 3-4 tahun baru balik modal. Be patient
4.      Sepi Konsumen dan diambang bangkrut. Untuk hal ini disebabkan oleh menejemen studio yang kurang bagus. Solusinya manage kembali menenjemen studio, karena untuk hal ini mutlak kesalahan pengusahanya. Dan bisa dilihat dari beberapa faktor. Pertama adalah, kualitas alat-alatnya yang jauh dari standar, kedua ruang studio yang sempit dan monoton, maksudnya tidak mengairahkan (bau dan  lembab). Ketiga, penjaganya terlalu kaku atau nge-BT-in, cuek dan terkesan bodo’ amat yang penting gw untung. Dan yang terakhir adalah lokasi, aksesnya susah, atau terpencil. 

Ada pertanyaan atau butuh bantuan ketik aja di bawah…
Salam,